Hal ini disampaikan Kepala Pusat Informasi dan Pengolahan Data (Kapusinfolahta) TNI, Marsma TNI Pujiyanto, ketika meninjau latihan keamanan cyber dan sistem teknologi dalam bentuk Information System and Technology Exchange (ISTX) di Jakarta Room Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (25/7).

Latihan yang melibatkan 34 personel militer, terdiri dari 19 Prajurit TNI

dan 15 Tentara Hawaii tersebut akan berakhir hari ini (Jumat, 26/7).

Ketika meninjau latihan itu Kapusinfolahta TNI didampingi Kabidpamsisfo Pusinfolahta TNI Kolonel Sus M. Yusuf, dan Kabidduk TI Pusinfolahta TNI Kolonel Czi Ign. Budiman. Juga mengikuti pembekalan materi yang disampaikan Ssgt Marc Masuno mengenai Kibana.

Kapusinfolahta TNI mengatakan bahwa latihan informasi sistem kedepan bisa dikembangkan dan tidak dengan negara tertentu saja.

“Latihan seperti ini bisa kita kembangkan dengan negara-negara lainnya yang memiliki teknologi informasi relatif maju,” harapnya.

“Artinya, kegiatan ini kedepannya tidak hanya dapat dilakukan secara bersama dengan beberapa negara saja. Selain itu, substansinya juga harus dikembangkan, sehingga latihan seperti ini makin lama makin maju dan makin baik serta bermanfaat bagi negara-negara yang mengikuti pelatihan,” katanya.

Marsma TNI Pujiyanto berharap ilmu yang didapat bisa dikembangkan dan sangat mungkin, apalagi saat ini TNI sudah mengembangkan cyber, sehingga bisa di aplikasikan dalam tugas sehari-hari.

Sementara itu, Ssgt Marc Masuno dalam pembekalannya menyampaikan bahwa Kibana adalah tools untuk melakukan analisis data yang bersumber dari berbagai platform dan tekhnologi seperti wlasticsearch, post gre SQL, my SQL, logs dan data lainnya dalam konteks keamanan cyber kibana merupakan sarana yang sangat efektif digunakan untuk melalukan thread hunting.