RMOL. Peredaran sabu seberat 28 kilogram berhasil digagalkan Polres Metro Jakarta Bara, yang bekerja sama dengan Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta dan DEA (The Drug Enforcement Administration) yang merupakan Badan Pencegahan Narkoba di Amerika Serikat.

Barang yang diamankan merupakan sabu jaringan Indonesia dan China. Sabu tersebut dibeli bahannya di Amerika, dibuat juga di Amerika tapi dikendalikan oleh penjual dari China.

Sabu sedianya akan diedarkan di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta Barat, sehingga dikirim melalui Los Angeles melalui paket pos. Untuk mengelabui petugas Bea Cukai, sabu disimpan dalam kemasan kopi Starbucks.

“Jadi ini mastermind-nya ada di China, ini sedang kita dalami, sifatnya berkesinambungan penyelidikan. Yang jelas, ada dua orang asing dari China yang khusus dikirim ke Indonesia untuk memastikan barangnya ini sudah tiba,” ujar Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Hengki Haryadi, dalam konferensi pers di Polres Metro Jakarta Barat, Kamis (9/5).

Dari 28 kilogram yang berhasil digagalkan, 16 kilogram di antaranya digagalkan di Indonesia lewat kerja sama Polres Metro Jakarta Barat dengan Bea Cukai Indonesia.

Sementara pengiriman 12 kilogram dari Amerika menuju Indonesia berhasil digagalkan berkat kerja sama dengan DEA.

“Pada tanggal 11 April 2019 melalui teknik control delivery kita berhasil mengungkap sabu seberat 6 kilogram. Pada tanggal 30 April kita lakukan penangkapan kedua, kita berhasil menyita 10 kilogram sabu,” lanjut Hengki.

Dua penangkapan di Jakarta dilakukan di Kantor Pos Daan Mogot Jakarta Barat pada 11 April serta di parkiran mobil kantor Fedex, Tebet, Jakarta Selatan pada 30 April.

Dari penangkapan itu, polisi mengamankan empat pelaku, yakni Dasuki (42), Budi Supriyanto (52), serta dua warga negara China, Cui Ming (26) dan satu kurir perempuan, Li Xiufen (22).

“Dua tersangka di antaranya adalah warga negara asing yang khusus datang dari China untuk memastikan barang ini datang (ke Indonesia),” ujar Kapolres Metro Jakarta Barat Hengki Haryadi.

Hengki mengatakan, masuknya sabu dari Amerika ke Indonesia merupakan jalur baru dalam transaksi narkotika jaringan internasional. Sebab sebelumnya jaringan sabu internasional yang masuk ke Indonesia lebih banyak berasal dari China atau Myanmar.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Kantor Bea Cukai Soekarno-Hatta, Erwin Situmorang. Menurutnya, modus pengiriman dengan jalur baru ini merupakan upaya untuk mengelabui petugas Bea Cukai. Sebab, mereka biasanya tidak terlalu memperhatikan barang yang masuk dari Amerika.

“Di dokumen pertama yang jumlahnya 6 kilogram ini, mereka bilang barangnya ini seperti ini (menunjukkan bungkus kopi kemasan Starbucks). Saya pikir benar-benar dari Amerika juga, karena ada gambar Starbucks. Benar-benar American style banget,” ungkap Erwin Situmorang, pejabat dari Bea Cukai Bandara Soetta.

“Pada umumnya narkoba yang datang biasanya dari China, Malaysia, Nigeria, Afrika, Thailand. Tapi kita biasanya enggak terlampau aware dengan barang-barang yang datang dari Amerika, karena kita pikir itu enggak berisiko,” lanjutnya.

Sementara itu, menurut Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat AKPB Erick Frendeiz, pihak DEA sangat terkejut terhadap modus baru pembuatan dan pengiriman sabu yang dirancang di wilayah Amerika.

Sehingga, kata Erick, DEA akan mendalami kasus ini untuk bisa mengungkap lebih jauh.